“Sebagai sentra inkubasi kepemimpin melalui upaya pembinaan spiritual, pencerahan intelektual, penggemblengan mental dan penajaman rasa, agar terbentuk pribadi-pribadi yang berkualifikasi sebagai pejuang pemikiran dan pemikir perjuangan dalam mengemban amanah darmaning sucike hadirat Ilahi Rabbi dan keharibaan kemanusiaan.
2. Misi
Yang menjadi Misi Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah adalah:
§Menyiapkan colon pemimpin umat masa depan, yang berakhlak mulia, peka terhadap setiap dinamika masyarakat, bersikap mandiri, berilmu amaliah dan beramal ilmiah.
§Memelihara dan mengembangkan khazanah cakrawala keilmuan Islam
§Berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat dan peradaban.
2. Khittah Pondok
Yang dimaksud dengan Khittah Pondok adalah sebuah gugus orientasi didaktik yang disarikan dari misi dan visi yang menjadi dasar dan arah dari seluruh aktivitas pendidikan dan pengajaran yang mesti dimiliki oleh setiap santri Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah, yang terdiri dari:
§Kedalaman Spiritual
§Ketajaman Nalar
§Mental Ke-swadaya-an, dan,
§Kepekaan terhadap Problematika sosial
Inilah nilai-nilai dasar yang ditanamkan di Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah. Dengan tujuan, agar seluruh santri alumni pesantren memiliki aspek-aspek pokok sebagai bekal dalam menjalankan tugas sebagai abdullah serta dalam mengemban amanah sebagai khalifatullah.
Kedalaman spiritual adalah kunci dari keberadaan kehambaan manusia sebagai ábdun. Posisi inilah yang mendorong manusia untuk pasrah total kepada Allah tanpa motif apapun kecuali cinta dan tiada memiliki keinginan apapun kecuali Rhido-Nya.
Namun dengan hanya berbekal aspek pertama ini, tiadalah cukup. Karena Islam bukan merupakan agama yang hanya an sich spiritualitas, bahkan kedalaman spiritual itu sendiri mensyaratkan adanya ketajaman nalar. Karena selain memiliki tugas sebagai hamba (ábdun), Manusia juga memiliki amanah sebagai Khalifah yang menuntut manusia untuk mampu bersikap kritis, kreatif, progress, berkeinginan tinggi serta berkemampuan multi-guna. Sepintas implikasi dari aspek kedua ini (berkeinginan tinggi) tampak berlawanan dengan implikasi dari aspek yang pertama (tidak boleh berkeinginan), namun sesungguhnya tidaklah demikian. Karena apa-apa yang menjadi keinginan dan dorongan dari posisi manusia sebagai khalifah harus semata-mata terpancar dari ego Ilahiah bukan kedirian manusia, keinginan tinggi seorang khalifatullah tidak boleh bersumber dari dirinya melainkan harus diyakini bersumber dari dan semata-mata adalah kuasa-Nya, hingga kemudian sungguh-sungguh serta betul-betul menjadi semata-mata keinginan, kehendak, serta kuasa-Nya, Sesuai dengan janji Allah dalam salah satu hadits qudsi“bertaqarrublah engkau kepadaku dengan nawafil niscayaaku akan menjadi matamu dalam melihat, menjadi telingamu dalam mendengar, menjadi kakimu dalam melangkah serta menjadi tanganmu dalam berbuat”itulah yang disebut dengan ma’rifatullah.
Kedua aspek tersebut akan memiliki nilai aksiologis dan fungsi yang jelas jika manusianya itu memiliki jiwa yang mandiri (bermental swadaya) serta peka terhadap lingkungan sosial. Karena inti dari sebuah ajaran haruslah bermuara pada kepentingan masyarakat banyak, yakni membangun peradaban. Inilah yang menjadi inti dari peran Kritikal para Rasul dan Anbia.
4. Motto
Sementara yang menjadi motto Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah adalah:
“Ikhlas Bakti Darma Suci”. Maksud dan makna dari motto ini adalah, pesan moral bagi seluruh civitas kepesantrenan agar memiliki jiwa Ikhlas dalam berdarma bakti serta membaktikan kerja yang benar, bersih dan terhindar dari segala perbuatan kotor. Setidaknya, terhindar dari motif-motif duniawi, bekerja di Pesantren Al Istiqomah tidak boleh didasarkan atas kenginan mencari penghidupan di pesantren melainkan harus menghidupkan pesantren dengan meminjam dan menyadur peribahasa yang diungkapkan oleh John F kennedy ” Ask what you can do for Istiqomah, and don’t ask what can Istiqomah do for you”.
5. Mahkota Pondok
Setiap makhluk memiliki sesuatu yang dijadikan simbol kebanggaannya, demikian pula dengan Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah. Ia menjadikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai mahkotanya. Hal ini berdasar atas pandangan bahwa kedua bahasa tersebut merupakan kunci utama dalam membongkar gudang-gudang Ilmu yang belum terbuka. Seluruh santri di Pesantren Al Istiqomah diwajibkan berbahasa Arab dan Inggris dalam percakapan dan kegiatan sehari-harinya.